SALATIGA – Komitmen Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga dalam membangun budaya mutu terus diperkuat melalui penyelenggaraan Workshop Penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang berlangsung selama tiga hari, 3–5 Juli 2026, di Wahid PrimE Hotel Salatiga. Kegiatan yang digelar oleh Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) tersebut menjadi momentum penting bagi seluruh unsur pengelola mutu untuk menyamakan persepsi, memperkuat implementasi SPMI, sekaligus menyusun berbagai dokumen mutu yang akan menjadi acuan pengembangan kualitas akademik maupun tata kelola universitas.
Workshop dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Salatiga, Prof. Zakiyaudin Baidhawi, M.Ag. Dalam sambutannya, rektor menegaskan bahwa budaya mutu tidak dapat dibangun hanya melalui pemenuhan dokumen administrasi, tetapi harus menjadi kesadaran kolektif seluruh sivitas akademika.
Menurutnya, mutu merupakan fondasi utama dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan tinggi yang terus berkembang. Perguruan tinggi dituntut mampu memberikan layanan pendidikan yang unggul, akuntabel, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
“SPMI bukan sekadar kewajiban administratif. Lebih dari itu, SPMI adalah instrumen untuk memastikan bahwa seluruh proses pendidikan berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan dan terus mengalami peningkatan secara berkelanjutan,” ujar Rektor.
Ia menambahkan bahwa setiap unit kerja memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga kualitas layanan. Oleh karena itu, seluruh unsur universitas harus bergerak bersama membangun ekosistem yang mendukung terciptanya budaya mutu.
Rektor juga mengapresiasi penyelenggaraan workshop yang melibatkan berbagai unsur pengelola mutu dari tingkat universitas hingga fakultas. Menurutnya, sinergi menjadi kunci agar implementasi SPMI tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi gerakan bersama.
Sementara itu, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Salatiga, Prof. Dr. Budiyono Saputro, M.Pd., menjelaskan bahwa workshop ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan LPM dalam memperkuat implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal di seluruh lingkungan universitas.
Ia menyampaikan bahwa keberhasilan penerapan SPMI sangat bergantung pada komitmen setiap unit kerja. Oleh sebab itu, seluruh peserta diajak untuk aktif berdiskusi, bertukar pengalaman, sekaligus menghasilkan dokumen mutu yang benar-benar aplikatif.
“Budaya mutu tidak lahir dalam waktu singkat. Ia dibangun melalui proses panjang, dimulai dari komitmen, konsistensi pelaksanaan standar, evaluasi, hingga perbaikan berkelanjutan. Workshop ini menjadi ruang bersama untuk menyatukan langkah tersebut,” jelasnya.
Workshop diikuti oleh berbagai unsur strategis di lingkungan UIN Salatiga. Hadir Wakil Rektor I Prof. Dr. Miftahudin, M.Ag., Dekan Fakultas Dakwah Prof. Dr. Adang Kuswaya, M.Ag., seluruh Kepala Pusat Gugus Jaminan Mutu Fakultas (Kapus GJMF) dari seluruh fakultas di lingkungan UIN Salatiga, para kepala pusat di lingkungan universitas, serta peserta dari perguruan tinggi mitra.
Partisipasi perguruan tinggi lain menjadi nilai tambah dalam pelaksanaan workshop ini. Sejumlah perwakilan dari Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS), Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS), dan Akademi Kesehatan (AKES) Semarang turut hadir mengikuti rangkaian kegiatan. Kehadiran mereka memperkaya diskusi melalui berbagi praktik baik penerapan sistem penjaminan mutu di masing-masing institusi.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai sesi yang membahas konsep, strategi, hingga implementasi SPMI secara komprehensif. Diskusi berlangsung dinamis karena setiap peserta membawa pengalaman dan tantangan yang berbeda dari unit kerjanya masing-masing.
Workshop tidak hanya menghadirkan paparan materi, tetapi juga memberikan ruang bagi peserta untuk bekerja secara kelompok. Melalui forum tersebut, para Kapus GJMF bersama tim menyusun, menyempurnakan, dan mereviu berbagai dokumen yang berkaitan dengan implementasi penjaminan mutu.
Proses penyusunan dokumen berlangsung secara intensif. Setiap kelompok mendiskusikan berbagai indikator mutu, mekanisme monitoring dan evaluasi, hingga strategi implementasi di tingkat fakultas. Pendekatan kolaboratif ini memungkinkan terjadinya pertukaran ide yang konstruktif sehingga menghasilkan dokumen yang lebih komprehensif.
Salah satu agenda paling penting dalam workshop ini adalah penyerahan dokumen hasil kerja tim Kapus GJMF kepada dosen dari masing-masing fakultas.
Momentum tersebut menjadi simbol bahwa hasil workshop tidak berhenti sebagai dokumen yang disimpan, melainkan akan menjadi pedoman bersama dalam menjalankan penjaminan mutu di setiap fakultas.
Prosesi penyerahan dokumen dilakukan secara resmi oleh Wakil Rektor I, Prof. Dr. Miftahudin, M.Ag. Penyerahan tersebut disaksikan oleh pimpinan universitas, pimpinan fakultas, serta seluruh peserta workshop.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor I menegaskan bahwa dokumen yang telah disusun harus menjadi instrumen kerja nyata.
Ia berharap seluruh dosen dapat memanfaatkan dokumen tersebut sebagai pedoman dalam melaksanakan tridarma perguruan tinggi yang selaras dengan standar mutu universitas.
“Dokumen ini bukan sekadar hasil workshop. Ini adalah bentuk komitmen bersama agar seluruh proses akademik berjalan sesuai standar yang telah disepakati dan terus mengalami penyempurnaan,” ujarnya.
Penyerahan dokumen sekaligus menjadi tonggak awal implementasi hasil workshop di masing-masing fakultas. Dengan demikian, setiap rekomendasi yang telah dirumuskan dapat segera diterapkan dalam kegiatan akademik maupun tata kelola organisasi.
Selain penyusunan dokumen, workshop juga menjadi forum refleksi terhadap pelaksanaan SPMI yang selama ini telah dijalankan.
Peserta melakukan evaluasi terhadap berbagai capaian sekaligus mengidentifikasi tantangan yang masih dihadapi dalam implementasi sistem penjaminan mutu.
Diskusi berkembang pada pentingnya membangun budaya evaluasi yang berkesinambungan. Evaluasi tidak dipandang sebagai upaya mencari kesalahan, melainkan sebagai sarana memperbaiki proses agar mutu layanan pendidikan terus meningkat.
Dalam berbagai sesi, peserta juga menekankan bahwa keberhasilan implementasi SPMI sangat bergantung pada keterlibatan seluruh sivitas akademika. Oleh karena itu, budaya mutu harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hingga tindak lanjut.
Dekan Fakultas Dakwah, Prof. Dr. Adang Kuswaya, M.Ag., menyampaikan bahwa fakultas memiliki peran strategis dalam memastikan implementasi standar mutu berjalan secara konsisten.
Menurutnya, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa harus memiliki pemahaman yang sama mengenai pentingnya penjaminan mutu sebagai bagian dari peningkatan kualitas layanan pendidikan.
Ia berharap hasil workshop mampu memperkuat sinergi antara fakultas dengan LPM dan GJMF sehingga pelaksanaan standar mutu dapat berjalan lebih efektif.


Kapus GJMF Fakultas Dakwah, Imam mas Arum, M.Pd. juga menyampaikan ucapan terima kasih, atas kehadiran Dekan Fakultas Dakwah. Hal ini tentu sangat positif sebagai bukti dukungan Lembaga atas kinerja GJMF untuk meningkatkan budaya mutu di lingkungan Fakultas. Kedepan tentu Kerjasama GJMF dan pimpinan Lembaga harus saling menguatkan dan melengkapi. Sukes dan semangat selalu untuk Fakultas Dakwah dan budaya mutu selanjutnya.
Suasana workshop berlangsung produktif namun tetap hangat. Peserta tidak hanya berdiskusi dalam forum resmi, tetapi juga memanfaatkan waktu jeda untuk bertukar pengalaman mengenai praktik penjaminan mutu di masing-masing institusi.
Interaksi tersebut memperlihatkan bahwa tantangan yang dihadapi perguruan tinggi pada dasarnya memiliki karakteristik yang hampir sama, sehingga kolaborasi menjadi solusi terbaik untuk menghasilkan inovasi dalam pengelolaan mutu.
Kehadiran peserta dari UDINUS, UNWAHAS, dan AKES Semarang memperluas perspektif peserta mengenai berbagai model implementasi SPMI yang telah diterapkan di perguruan tinggi lain.
Berbagai praktik baik tersebut menjadi inspirasi bagi UIN Salatiga dalam mengembangkan sistem penjaminan mutu yang semakin adaptif terhadap perkembangan zaman.
Workshop ini juga memperkuat jejaring kerja sama antarlembaga penjaminan mutu. Sinergi tersebut diharapkan dapat menghasilkan berbagai program kolaboratif pada masa mendatang, baik dalam bentuk pelatihan, benchmarking, maupun pengembangan sistem mutu bersama.
Menjelang berakhirnya kegiatan, seluruh peserta menyatakan komitmen untuk terus mengawal implementasi hasil workshop di unit kerja masing-masing.
Komitmen tersebut menjadi penegasan bahwa budaya mutu bukan hanya menjadi tanggung jawab LPM, melainkan tanggung jawab seluruh sivitas akademika.
Melalui workshop ini, UIN Salatiga kembali menegaskan keseriusannya dalam membangun tata kelola perguruan tinggi yang berkualitas, akuntabel, dan berkelanjutan.
Semangat kolaborasi yang terbangun selama tiga hari pelaksanaan diharapkan mampu menjadi energi baru dalam memperkuat implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal di seluruh lingkungan universitas.
Dengan dukungan pimpinan universitas, fakultas, para Kapus GJMF, dosen, tenaga kependidikan, serta jejaring perguruan tinggi mitra, budaya mutu di UIN Salatiga diyakini akan semakin mengakar dan menjadi bagian dari identitas institusi.
Workshop Penguatan SPMI tahun 2026 bukan sekadar forum ilmiah atau agenda rutin kelembagaan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi bersama untuk memastikan bahwa setiap langkah pengembangan universitas selalu berorientasi pada peningkatan mutu secara berkelanjutan.
Melalui komitmen tersebut, UIN Salatiga optimistis mampu menghadirkan layanan pendidikan tinggi yang semakin unggul, terpercaya, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia pendidikan pada masa depan.