Salatiga, 22 Juli 2026 – Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga menyelenggarakan Pelatihan Layanan Relawan Disabilitas sebagai bentuk komitmen dalam memperkuat layanan pendidikan yang inklusif bagi seluruh mahasiswa. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Redydian Adhitya Nugraha, S.Psi., M.A., Pengelola Pusat Studi Disabilitas Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS), sebagai narasumber.
Pelatihan dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Dakwah UIN Salatiga, Prof. Dr. Adang Kuswaya, M.Ag. Dalam sambutannya, Dekan menegaskan bahwa terwujudnya kampus inklusif memerlukan keterlibatan seluruh sivitas akademika. Menurutnya, pelayanan kepada mahasiswa penyandang disabilitas bukan hanya menjadi tanggung jawab individu atau unit tertentu, tetapi merupakan komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan akademik yang ramah, setara, dan menghargai keberagaman.
“Kampus inklusif bukan sekadar menyediakan akses, tetapi juga membangun kepedulian, empati, dan budaya saling mendukung. Karena itu, kehadiran relawan disabilitas diharapkan mampu menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan setara bagi seluruh mahasiswa,” tegas Prof. Adang Kuswaya.
Kegiatan ini diikuti oleh para Wakil Dekan, para Ketua Program Studi, dosen, tenaga kependidikan, kakak asuh, serta mahasiswa Fakultas Dakwah UIN Salatiga. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan, terutama dalam sesi diskusi mengenai praktik pelayanan dan pendampingan mahasiswa penyandang disabilitas di lingkungan perguruan tinggi.

Dalam pemaparannya, Dr. Redydian Adhitya Nugraha menjelaskan bahwa paradigma layanan disabilitas saat ini telah bergeser dari pendekatan berbasis belas kasih menuju pendekatan berbasis hak (rights-based approach). Oleh karena itu, seluruh sivitas akademika perlu memiliki pemahaman yang tepat mengenai disabilitas agar mampu memberikan layanan yang setara tanpa stigma maupun diskriminasi.
Ia juga menekankan pentingnya peran relawan disabilitas sebagai mitra dalam menciptakan lingkungan kampus yang inklusif. Relawan tidak hanya berperan memberikan pendampingan ketika dibutuhkan, tetapi juga menjadi penghubung komunikasi, membangun kesadaran inklusi, serta membantu menciptakan suasana akademik yang mendukung partisipasi aktif seluruh mahasiswa.
Selain penyampaian materi, peserta memperoleh pembekalan mengenai etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas, komunikasi yang inklusif, serta strategi pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing individu. Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan berbagi pengalaman dari peserta mengenai implementasi layanan inklusif di lingkungan Fakultas Dakwah.
Melalui pelatihan ini, Fakultas Dakwah UIN Salatiga berharap kapasitas relawan disabilitas serta seluruh sivitas akademika semakin meningkat dalam memberikan layanan yang profesional, humanis, dan inklusif. Kegiatan ini juga menjadi langkah nyata Fakultas Dakwah dalam mendukung kebijakan UIN Salatiga sebagai perguruan tinggi yang memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh mahasiswa tanpa terkecuali.
Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian bersama, Fakultas Dakwah UIN Salatiga terus berupaya mewujudkan ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif, berkeadilan, serta mencerminkan nilai-nilai Islam.
