TEMANGGUNG — Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Salatiga yang sedang melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Temanggung TV turut terlibat dalam kegiatan liputan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Temanggung. Salah satu UMKM yang menjadi objek liputan adalah kerajinan wayang kulit milik Diha, perajin muda asal Dusun Telogopucang Selatan, Desa Telogopucang, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung.
Kegiatan liputan UMKM tersebut menjadi salah satu bagian dari pengalaman mahasiswa selama menjalani PPL di Temanggung TV. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar mengenai proses produksi berita televisi secara langsung, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam menggali potensi UMKM serta mengangkat cerita para pelaku usaha lokal kepada masyarakat.
Dalam pelaksanaan liputan, mahasiswa melakukan pengamatan secara langsung terhadap proses pembuatan wayang kulit sekaligus melakukan wawancara dengan Diha sebagai perajin. Liputan tersebut mengangkat semangat generasi muda dalam mempertahankan seni tradisional di tengah perkembangan teknologi dan budaya modern.
Diha sendiri telah mengenal seni pembuatan wayang kulit sejak duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar. Ketertarikannya terhadap seni pewayangan terus berkembang hingga pada tahun 2018 ia mulai lebih fokus menekuni pembuatan wayang kulit.
Dalam proses liputan, mahasiswa melihat secara langsung bahwa pembuatan satu tokoh wayang membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta waktu yang cukup panjang. Untuk menyelesaikan satu tokoh wayang kulit, Diha membutuhkan waktu sekitar satu bulan, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan karakter yang dibuat.
Proses pembuatan dimulai dari perendaman kulit, penjemuran, penghalusan permukaan kulit, pembuatan pola, pengukiran, pewarnaan, hingga pemasangan gapit atau penyangga yang terbuat dari rotan. Bahan yang digunakan antara lain kulit kerbau, kulit gudel atau anak kerbau, kulit kidang, hingga kulit sapi.
Berbagai karakter wayang dapat dibuat sesuai dengan pesanan pelanggan, mulai dari Arjuna, Gatotkaca, Bima, hingga tokoh pewayangan lainnya. Harga yang ditawarkan pun beragam, menyesuaikan ukuran, tingkat kerumitan ukiran, dan kualitas pengerjaan. Wayang dengan ukiran halus dapat mencapai harga sekitar Rp1,5 juta, sedangkan pengerjaan yang lebih sederhana berada di kisaran Rp800 ribu, di luar harga tangkai.
Selain menggali proses produksi, mahasiswa juga mengangkat strategi pemasaran yang dilakukan Diha. Jika sebelumnya pemasaran hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut, kini Diha mulai memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Instagram untuk memperluas jangkauan pemasaran sekaligus memperkenalkan karya-karyanya kepada masyarakat.
Bagi mahasiswa KPI, kegiatan liputan tersebut menjadi kesempatan untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan, khususnya dalam bidang jurnalistik, teknik wawancara, penulisan naskah, pengambilan gambar, hingga proses produksi berita televisi.
Melalui kegiatan PPL di Temanggung TV, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori komunikasi dan jurnalistik di lingkungan akademik, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara langsung di dunia kerja. Liputan UMKM menjadi salah satu pengalaman yang memberikan pemahaman bahwa media memiliki peran penting dalam memperkenalkan potensi daerah sekaligus mengangkat kisah inspiratif masyarakat.
Liputan mengenai kerajinan wayang kulit Diha juga menjadi bentuk apresiasi terhadap generasi muda yang turut mengambil bagian dalam menjaga warisan budaya Indonesia. Di tengah perkembangan zaman, keberadaan para perajin muda menjadi salah satu harapan agar seni tradisional tetap dikenal dan dapat terus berkembang di masa mendatang.
