BALIKPAPAN – Sebanyak 28 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dari seluruh Indonesia berkumpul di Kota Balikpapan dalam rangka menghadiri Pertemuan Forum Dekanat Dakwah dan Komunikasi (Fordakom) yang berlangsung pada 4–7 Juni 2026. Pertemuan strategis nasional yang diselenggarakan oleh UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda ini dihadiri oleh jajaran dekanat, guru besar rumpun ilmu dakwah, koordinator program studi, serta pengurus asosiasi profesi keilmuan dakwah se-Indonesia.
Agenda utama dari forum tahunan ini adalah menyelaraskan persepsi, melakukan evaluasi komprehensif terhadap perkembangan kurikulum, serta merumuskan arah pengembangan keilmuan rumpun ilmu dakwah dan komunikasi di lingkungan PTKIN.
Langkah rekonstruksi akademik ini dinilai sangat mendesak demi merespons dinamika sosial-digital yang berkembang cepat. Pembahasan difokuskan pada empat program studi utama yang menjadi pilar fakultas dakwah, yaitu program studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Manajemen Dakwah (MD), Bimbingan Konseling Islam (BKI), dan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI). Integrasi kurikulum yang adaptif menjadi target utama agar setiap PTKIN memiliki standardisasi capaian pembelajaran yang setara dan bermutu tinggi.
Dalam sambutannya, Rektor UINSI Samarinda Prof. Dr. Zurqoni, M.Ag., selaku tuan rumah menyampaikan bahwa pertemuan ini memikul tanggung jawab moral dan intelektual yang besar. Beliau menggarisbawahi tantangan nyata yang dihadapi perguruan tinggi saat ini, termasuk gelombang kritikan dan keraguan dari publik di dunia maya mengenai relevansi serta kesiapan kerja para lulusan PTKIN. Oleh karena itu, Fordakom harus menjadi jawaban konkret atas skeptisisme tersebut.
“Pertemuan ini bukan sekadar rutinitas formal, melainkan ajang diskusi, berbagi pengalaman, dan dialog produktif untuk penguatan program studi dan kurikulum. Hari ini, kami menganggap topik yang paling menarik dan krusial adalah bagaimana kita merancang strategi akademik untuk mencetak lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi teoritis, tetapi juga berdaya saing global,” tegas Rektor UINSI Samarinda.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Fordakom Nasional, Prof. Hasan Sazali dari UIN Sumatera Utara, menekankan pentingnya reorientasi epistemologis dalam menghadapi tantangan zaman. Beliau mendorong penguatan gagasan “Dakwah Progresif” sebagai instrumen akademik dan praktis. Menurut Prof. Hasan, dakwah progresif hadir sebagai antitesis terhadap berbagai kompleksitas tantangan dalam berbangsa, bernegara, sekaligus dalam berislam di era modern. Forum ini menjadi sangat krusial untuk memantapkan kembali tujuan, profil, dan capaian pembelajaran dari para lulusan agar mereka mampu bertindak sebagai agen perubahan yang moderat dan solutif.
Acara ini dibuka secara resmi oleh Walikota Balikpapan, Dr. H. Rahmad Mas’ud, S.E., M.E. Dalam pidato sambutannya, ia menyampaikan apresiasi yang mendalam sekaligus memberikan tantangan kepada seluruh peserta forum. Walikota mengingatkan bahwa institusi pendidikan, terutama rumpun ilmu dakwah, tidak boleh menutup mata dari tuntutan serta disrupsi zaman. Fakultas Dakwah di PTKIN dituntut ikut bertanggung jawab dalam menciptakan program-program dakwah dan komunikasi yang jauh lebih kreatif, inovatif, serta memberikan dampak nyata bagi pembangunan masyarakat secara luas. Melalui kerja bersama ini, Fordakom 2026 diharapkan menghasilkan cetak biru kurikulum yang responsif dan transformatif, serta berintegrasi dengan pemangku kepentingan lintas sektor.
