WhatsApp Image 2026-06-29 at 14.26.26

Salatiga—Program Studi Psikologi Islam Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga menyelenggarakan pembekalan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) bagi ratusan mahasiswa semester 6 pada Kamis, 25 Juni 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Seminar lantai 3 Gedung K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari, UIN Salatiga.

Pembekalan ini menghadirkan dua narasumber dari PT Ara Shoes Indonesia, yaitu Agus Saptana selaku HR Leader dan Avi Anggriana, S.Psi., M.Si., selaku HR Learning & Development sekaligus Recruitment Practitioner. Keduanya membawakan materi bertema “Sukses Magang (PKL/PPL): Profesionalisme, Adaptasi, dan Etika Kerja Mahasiswa Psikologi Islam.” Materi tersebut menekankan pentingnya kesiapan mahasiswa dalam memasuki dunia kerja, baik dari sisi sikap, keterampilan, etika, maupun kemampuan beradaptasi.

Kegiatan pembekalan PPL ini menjadi bagian penting dari proses akademik mahasiswa Psikologi Islam sebelum mereka terjun ke lembaga atau instansi tempat praktik. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk memahami teknis pelaksanaan PPL, tetapi juga dibekali wawasan tentang budaya kerja profesional, ekspektasi industri, serta kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja saat ini.

Dalam pembekalan tersebut, narasumber menegaskan bahwa PPL bukan sekadar kewajiban akademik yang harus diselesaikan mahasiswa. Lebih dari itu, PPL merupakan sarana belajar langsung dari dunia kerja, kesempatan membangun jejaring profesional, pengalaman kerja pertama, bahan penyusunan portofolio, serta peluang untuk meningkatkan daya saing setelah lulus. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan tidak memandang PPL hanya sebagai formalitas perkuliahan, tetapi sebagai ruang pembentukan karakter dan kompetensi profesional.

Agus Saptana, yang memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang sumber daya manusia, memberikan gambaran mengenai dinamika dunia kerja yang berbeda dengan dunia kampus. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami bahwa dunia kerja memiliki ritme, tuntutan, dan standar yang lebih ketat. Jika di kampus mahasiswa lebih banyak berorientasi pada nilai, jadwal yang relatif fleksibel, dan proses belajar mandiri, maka di dunia kerja orientasi utama adalah hasil, kedisiplinan terhadap tenggat waktu, kemampuan bekerja dalam tim, serta tanggung jawab terhadap setiap tugas yang diberikan.

”Perbedaan antara dunia kampus dan dunia kerja tersebut menjadi salah satu poin penting dalam pembekalan. Mahasiswa diajak untuk menyadari bahwa kesalahan di dunia kerja dapat berdampak pada sistem, tim, dan kinerja lembaga. Oleh karena itu, mahasiswa PPL harus memiliki kesiapan mental, kemampuan komunikasi, serta kepekaan terhadap lingkungan kerja. Mereka juga dituntut mampu belajar cepat, menyesuaikan diri, dan menjaga kepercayaan yang diberikan oleh lembaga tempat praktik” Papar Agus.

Sementara itu, Avi Anggriana, S.Psi., M.Si., yang memiliki pengalaman lebih dari 11 tahun di bidang Human Resources, Learning and Development, Recruitment and Selection, Talent Management, Performance Management, Employee Relation, dan Organizational Development, menjelaskan sejumlah aspek yang dilihat oleh praktisi HR dalam menilai calon tenaga kerja. Menurut pemaparan materi, HR tidak hanya melihat latar belakang pendidikan, tetapi juga sikap, potensi, pengalaman organisasi, pengalaman PKL atau PPL, kemampuan komunikasi, serta kesesuaian dengan budaya kerja perusahaan.

”Dalam konteks tersebut, mahasiswa Psikologi Islam memiliki peluang besar untuk mengembangkan diri selama PPL. Latar belakang keilmuan psikologi dapat menjadi modal penting dalam memahami perilaku individu, dinamika kelompok, komunikasi interpersonal, dan pengelolaan relasi kerja. Namun, modal akademik tersebut tetap perlu dilengkapi dengan sikap profesional, kemampuan bekerja sama, serta integritas dalam menjalankan tugas” Jelas Ave kepada mahasiswa.

Salah satu pesan utama yang disampaikan dalam pembekalan adalah pentingnya membangun personal branding selama menjalani PPL. Mahasiswa diajak untuk bertanya kepada diri sendiri, ingin dikenal sebagai pribadi seperti apa setelah PPL selesai. Apakah sebagai mahasiswa yang disiplin, cepat belajar, dapat dipercaya, komunikatif, atau solutif. Pertanyaan reflektif ini penting karena pengalaman PPL tidak hanya meninggalkan catatan administratif, tetapi juga kesan profesional di mata pembimbing, rekan kerja, dan lembaga mitra.

Narasumber juga memaparkan sejumlah sikap yang diharapkan perusahaan atau lembaga dari mahasiswa yang sedang menjalani praktik. Di antaranya adalah kemauan untuk belajar, disiplin, tanggung jawab, kejujuran, keaktifan bertanya, dan kemampuan bekerja sama. Sikap-sikap tersebut menjadi dasar penting karena mahasiswa PPL berada dalam proses transisi dari dunia akademik menuju dunia profesional.

Selain sikap, mahasiswa juga dibekali pemahaman mengenai formula kesuksesan PPL. Formula tersebut mencakup tiga unsur utama, yaitu hard skill, soft skill, dan attitude. Hard skill meliputi kemampuan teknis seperti penguasaan Microsoft Office, analisis data, dan administrasi. Soft skill mencakup komunikasi, kerja tim, dan problem solving. Adapun attitude mencakup disiplin, integritas, dan tanggung jawab. Ketiga unsur ini perlu dikembangkan secara seimbang agar mahasiswa mampu memberikan kontribusi nyata selama berada di tempat PPL.

Aspek etika kerja juga menjadi perhatian utama dalam kegiatan pembekalan. Mahasiswa diingatkan untuk datang tepat waktu, berpakaian rapi, menghormati atasan, menjaga komunikasi secara profesional, serta menjaga kerahasiaan data lembaga. Sebaliknya, mahasiswa diminta menghindari perilaku yang dapat menurunkan kepercayaan, seperti bermain gawai saat bekerja, terlambat tanpa pemberitahuan, menghilang saat jam kerja, atau menyebarkan informasi internal lembaga.

Etika kerja tersebut menjadi sangat penting karena mahasiswa membawa nama baik pribadi, program studi, fakultas, dan universitas. Selama menjalani PPL, mahasiswa tidak hanya dinilai dari kemampuan akademiknya, tetapi juga dari perilaku sehari-hari. Cara berkomunikasi, kedisiplinan, kesopanan, kepedulian terhadap tugas, serta kemampuan menjaga rahasia lembaga akan menjadi bagian dari penilaian profesional.

Dalam sesi pembekalan, mahasiswa juga diajak untuk memahami pentingnya menerima umpan balik atau feedback. Narasumber menekankan bahwa feedback bukan kritik yang harus ditakuti, melainkan kesempatan untuk belajar, sarana perbaikan, dan cara mempercepat perkembangan diri. Dengan sikap terbuka terhadap masukan, mahasiswa dapat memperbaiki kekurangan selama PPL dan meningkatkan kualitas diri secara bertahap.

Selain itu, mahasiswa diarahkan untuk mendokumentasikan pengalaman PPL sebagai bagian dari portofolio. Dokumentasi tersebut dapat mencakup proyek yang dikerjakan, tugas utama, masalah yang berhasil diselesaikan, dan keterampilan yang dipelajari. Portofolio ini nantinya dapat menjadi bahan penting dalam penyusunan curriculum vitae atau CV, sekaligus menjadi bekal ketika menghadapi wawancara kerja setelah lulus.

Narasumber juga memberikan tips bagi mahasiswa dalam menyiapkan CV sebagai calon fresh graduate. ”Beberapa aspek yang perlu ditonjolkan antara lain pendidikan, pengalaman PPL, pengalaman organisasi, sertifikasi, prestasi, dan kompetensi. Mahasiswa diharapkan tidak menunggu lulus untuk mulai menata rekam jejak profesional, tetapi mulai membangunnya sejak masa kuliah dan selama menjalani PPL” Ungkap Agus.

Di era digital, pembekalan juga menyinggung pemanfaatan media sosial untuk pengembangan karier. Mahasiswa dikenalkan pada pentingnya membangun citra profesional melalui platform seperti LinkedIn, Instagram, dan job portal. Media sosial tidak hanya menjadi ruang ekspresi pribadi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas jejaring, menampilkan portofolio, mencari peluang kerja, dan memperkenalkan kompetensi diri kepada dunia profesional.

Kegiatan pembekalan berlangsung secara interaktif. Mahasiswa diajak merefleksikan kekhawatiran mereka menjelang PPL, hal-hal yang ingin dipelajari, serta gambaran lembaga atau perusahaan impian setelah lulus. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya menerima materi secara satu arah, tetapi juga didorong untuk mengenali kesiapan diri dan tantangan yang mungkin dihadapi di lapangan.

Bagi mahasiswa semester 6 Prodi Psikologi Islam, pembekalan ini menjadi momentum penting untuk mempersiapkan diri sebelum memasuki ruang praktik. PPL diharapkan dapat menjadi jembatan antara teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan realitas sosial dan profesional di lembaga tempat praktik. Mahasiswa dituntut mampu menerapkan ilmu psikologi Islam secara kontekstual, etis, dan bermanfaat bagi masyarakat atau institusi.

Melalui kegiatan ini, Prodi Psikologi Islam Fakultas Dakwah UIN Salatiga berharap mahasiswa memiliki kesiapan akademik, mental, sosial, dan profesional dalam melaksanakan PPL. Pembekalan tersebut juga menjadi upaya untuk memastikan mahasiswa mampu menjalankan tugas praktik secara bertanggung jawab, menjaga nama baik almamater, serta memperoleh pengalaman bermakna yang dapat mendukung kesiapan karier setelah menyelesaikan studi.

Pada akhir materi, narasumber menegaskan bahwa keberhasilan PPL tidak semata-mata diukur dari lamanya mahasiswa berada di tempat praktik. ”Keberhasilan itu lebih ditentukan oleh apa yang dipelajari, siapa yang dikenal, nilai apa yang diberikan, dan kesan profesional apa yang ditinggalkan. Dengan bekal tersebut, mahasiswa Psikologi Islam UIN Salatiga diharapkan mampu menjalani PPL secara optimal dan menjadi calon lulusan yang kompetitif, adaptif, serta berintegritas” Pungkas Ave.