Salatiga — Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga menyelenggarakan Seminar Internasional “Privacy and Cyber Security Awareness” pada Kamis, 13 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung di Laras Asri Resort & Spa Salatiga tersebut menghadirkan akademisi dan praktisi dari dalam maupun luar negeri untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akademik mengenai pentingnya kesadaran terhadap keamanan siber dan perlindungan privasi di tengah perkembangan teknologi digital.
Seminar internasional ini menghadirkan Prof. Dr. Zakiyuddin, M.Ag., Rektor UIN Salatiga, sebagai keynote speaker. Sementara itu, materi utama disampaikan oleh akademisi internasional, yaitu Prof. Dr. An Braeken dari Vrije Universiteit Brussel, Belgia, dan Prof. Dr. Maarten Dequanter dari Erasmushogeschool Brussel, Belgia. Kegiatan tersebut juga menghadirkan Ibnu Fathku Royana, S.Pd., M.Pd., Kepala Pusat Pengembangan Jurnal UPGRIS, serta Mega Novita, Ph.D., Editor in Chief ASSET UPGRIS. Seminar dipandu oleh Muhammad Nuryanto, S.Pd.I., M.Pd. sebagai moderator.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. An Braeken membahas keamanan siber dari perspektif pengguna internet dengan menekankan bahwa cybersecurity tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga dengan perilaku dan kesadaran setiap pengguna. Keamanan siber mencakup upaya melindungi sistem, jaringan, perangkat, dan data dari akses yang tidak sah maupun serangan digital, sekaligus memastikan tiga aspek utama, yaitu confidentiality, integrity, dan availability (CIA Triad).
Prof. An Braeken juga menguraikan berbagai bentuk ancaman yang dapat terjadi dalam aktivitas digital sehari-hari, mulai dari phishing, social engineering, ransomware, malware, spyware, keylogger, denial of service (DoS), hingga serangan terhadap perangkat Internet of Things (IoT). Salah satu penekanan penting dalam materi tersebut adalah bahwa pengguna sering kali menjadi salah satu titik rentan dalam sistem keamanan digital. Oleh karena itu, peningkatan literasi dan kesadaran keamanan siber menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai ancaman di ruang digital.
Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya penggunaan kata sandi yang kuat, multi-factor authentication (MFA), passkey, pembaruan sistem secara berkala, antivirus, serta pencadangan data. Selain itu, pengguna internet perlu lebih kritis dalam mengenali email mencurigakan dan tautan berbahaya. Prof. An Braeken mengingatkan bahwa tampilan situs palsu dapat dibuat menyerupai situs resmi sehingga pengguna perlu memeriksa alamat situs sebelum memasukkan informasi pribadi, nama pengguna, kata sandi, maupun data keuangan.
Sementara itu, Prof. Dr. Maarten Dequanter memberikan materi bertajuk “Network Security” yang membahas keamanan jaringan dari berbagai lapisan. Materi diawali dengan pemahaman mengenai jaringan komputer sebagai kumpulan perangkat yang saling terhubung untuk bertukar informasi dan berbagi sumber daya. Perkembangan teknologi membuat semakin banyak perangkat, termasuk komputer, smartphone, smartwatch, router, kamera, dan berbagai perangkat IoT, terhubung ke jaringan sehingga masing-masing membutuhkan perlindungan keamanan.
Dalam sesi tersebut, Prof. Maarten menjelaskan konsep OSI Model dan bagaimana aspek keamanan dapat dipahami pada setiap lapisan jaringan, mulai dari physical layer, data link layer, network layer, transport layer, hingga application layer. Peserta diperkenalkan dengan konsep penting seperti MAC address, IP address, TCP, UDP, firewall, VPN, port jaringan, serta berbagai mekanisme pengamanan jaringan. Pemahaman terhadap struktur jaringan tersebut dinilai penting agar pengguna tidak hanya mengetahui cara menggunakan teknologi, tetapi juga memahami potensi risiko keamanan yang terdapat di balik konektivitas digital.
Prof. Maarten juga menekankan pentingnya pengamanan perangkat dan jaringan pada tingkat praktis. Pengguna dapat melakukan pemeriksaan terhadap konfigurasi jaringan, alamat IP, koneksi Wi-Fi, firewall, serta aktivitas data pada perangkat masing-masing. Materi juga memperkenalkan konsep VPN sebagai salah satu teknologi yang dapat membantu mengenkripsi lalu lintas internet dan meningkatkan perlindungan privasi ketika pengguna beraktivitas di jaringan publik.
Pembahasan semakin relevan ketika peserta diajak memahami risiko penggunaan public Wi-Fi, termasuk kemungkinan terjadinya evil twin attack, yaitu jaringan Wi-Fi palsu yang dibuat menyerupai jaringan resmi. Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk mengarahkan pengguna ke situs palsu atau memperoleh informasi yang dimasukkan pengguna. Materi ini memperkuat pesan bahwa penggunaan teknologi digital harus disertai sikap waspada, terutama ketika mengakses layanan yang membutuhkan informasi sensitif.
Seminar juga memberikan perspektif bahwa keamanan siber tidak dapat dipisahkan dari persoalan privasi. Informasi seperti alamat email, nomor telepon, identitas pribadi, data akun, hingga aktivitas pengguna di media sosial memiliki nilai dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai bentuk penipuan maupun serangan siber. Karena itu, pengguna perlu membatasi penyebaran informasi pribadi, memahami pengaturan privasi, serta memiliki sikap kritis terhadap informasi dan permintaan data yang diterima melalui internet.
Melalui seminar internasional ini, Fakultas Dakwah UIN Salatiga tidak hanya mendorong peningkatan kompetensi digital sivitas akademika, tetapi juga membangun kesadaran bahwa keamanan dan privasi merupakan tanggung jawab bersama. Perkembangan teknologi digital perlu diimbangi dengan kemampuan untuk mengenali ancaman, mengambil keputusan secara bijak, dan menggunakan teknologi secara aman serta bertanggung jawab.
Kegiatan “Privacy and Cyber Security Awareness” diharapkan dapat memperkuat wawasan peserta mengenai tantangan keamanan digital sekaligus mendorong terbentuknya budaya sadar keamanan siber di lingkungan akademik. Kolaborasi dengan akademisi internasional dari Belgia juga menjadi bagian dari upaya Fakultas Dakwah UIN Salatiga dalam memperluas jejaring akademik dan menghadirkan perspektif global dalam pengembangan literasi digital di lingkungan perguruan tinggi.
